RSS

Arsip Kategori: Kisah Keteladanan

Wasiat Khalifah Abu Bakar Ash-shidiq kepada panglima perang Yazid bin Abu Sufyan yang akan dikirim ke Syam dengan sasaran Damaskus

1.Sesungghnya aku mengangkatmu untuk menguji dan mencobamu, aku ingin mengetahui kapasitasmu, bila kamu menunaikannya dengan baik, maka tugas itu akan tetap di tanganmu, bahkan aku akan tambahkan untukmu, namun bila sebaliknya , maka aku akan menariknya dari tanganmu; Read the rest of this entry »

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2014 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , , , ,

Kontrak Sosial Abubakar ra dengan rakyatnya

Ketika Abu bakar ra menjadi khalifah, ia naik ke atas mimbar seraya berkata; “ Wahai sekalian manusia, aku dulu bekerja untuk keluargaku, akulah yang menghasilkan makan buat mereka, namun kini aku bekerja untuk kalian, maka bayarlah aku dari Baitul Maal kalian

Dengan ungkapan ini Abu Bakar telah memberikan penafsiran paling baik dan paling adil terhadap kontrak sosial antara pemerintah dan rakyatnya, beliau telah meletakkan dasar-dasarnya, bahwa kontrak antara rakyat dengan pemerintah adalah sama-sama terikat untuk memelihara kepentingan bersama(MR)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Ketegasan dan Tanggung Jawab Umar bin Khatab

Seseorang menghadap Umar Bin Khatab ra sebagai khalifah untuk mengadukan pencurian yang dilakukan oleh pembantunya, kemudian Umar bin Khatab menghadirkan mereka untuk dimintai pendapat, terungkaplah bahwa si majikan tidak mencukupi makanan dan pakaian mereka, dan Umar bin Khatab akhirnya melepaskan si pencuri, sambil berkata kepada sang majikan:”Jika para pelayanmu mencuri lagi, maka tanganmulah yang akan aku potong

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , , ,

Tanggung Jawab Umar bin Khatab

Seandainya seekor baghlah(hasil perkawinan silang himar dan kuda) terperosok di Irak, maka aku menganggap dirikulah yang harus bertanggung jawab atasnya di hadapan Alloh SWT; mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Tanggung jawab Umar bin Abdul Aziz terhadap rakyatnya

Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangat memprioitaskan kesejahtera rakyat dan tegaknya keadilan. Fathimah binti Abdul Malik pernah menemukan suaminya sedang menangis di tempat biaya Umar melaksanakan shalat sunnah. Fathimah berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya tahu dan sadar bahwa Tuhanku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Tuhanku. Itulah yang membuatku menangis.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Cara Umar bin Abdul Aziz mensikapi Bid’ah

Suatu ketika Abdul Malik, putra Umar b Abdul Aziz, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’

Umar b Abdul Aziz menjawab, ”Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , ,