RSS

Arsip Kategori: Kisah Keteladanan

Wasiat Khalifah Abu Bakar Ash-shidiq kepada panglima perang Yazid bin Abu Sufyan yang akan dikirim ke Syam dengan sasaran Damaskus

1.Sesungghnya aku mengangkatmu untuk menguji dan mencobamu, aku ingin mengetahui kapasitasmu, bila kamu menunaikannya dengan baik, maka tugas itu akan tetap di tanganmu, bahkan aku akan tambahkan untukmu, namun bila sebaliknya , maka aku akan menariknya dari tanganmu;
2.Bertakwalah kepada Alloh SWT, karena sesungguhnya Dia melihat apa yang tersembunyi darimu sebagaimana Dia melihat apa yang nampak darimu. Sesungguhnya yang paling berhak mendapatkan pertolongan Alloh SWT adalah orang yang paling patuh kepada-Nya, sedangkan orang yang paling dekat kepada Alloh SWT adalah yang paling rajin mendekatkan dirikepada-NYa dengan amal baiknya;
3.Jauhilah fanatisme jahiliyah, karena Alloh SWT membencinya dan membenci pengusungnya;
4.Bila kamu bersama pasukanmu, maka perlakukanlah mereka dengan baik dan membiasakan mereka dengan kebaikan. Bila menasehati mereka, persingkatlah, karena perkataan yang panjang, sebagian darinya melupakan sebagian yang lain. Perhatikan dirimu, niscaya orang2 akan mengikuti kebaikanmu;
5.Dirikan sholat pada waktunya dengan menyempurnakan rukuk dan sujud serta khusyu’ di dalamnya;
6.Bila utusan musuh datang kepadamu, maka muliakanlah mereka, namun persingkatlah keberadaan mereka diantara kalian, sehingga mereka meninggalkan kalian dengan tetap tidak mengetahui kekuatan kalian;
7.Simpanlah rahasia kalian dengan baik, karena bila tidak, maka mereka akan melihat kelemahan kalian dan mengetahui apa yang engkau ketahui dari kelemahan mereka. Dudukkanlah mereka dibagian yang paling kuat dari pasukanmu, cegah orang-orangmu agar tidak berbicara dengan mereka, sebab yang paling patut berbicara dengan mereka adalah kamu sendiri. Jangan menjadikan rahasiamu sebagai urusan yang terang-terangan, karena urusanmu bisa menjadi tumpang tindih;
8.Bila kamu bermusyawarah, maka berbicaralah dengan jujur, niscaya musyawarah akan menghasilkan kebenaran, jangan menyimpan pendapatmu di depan pemberi pendapat, karena kelemahanmu akan terlihat;
9.Berbincanglah di waktu malam dengan rekan-rekanmu, niscaya kamu akan mendapatkan berita-berita dan bisa membuka rahasia-rahasia;
10.Perbanyaklah penjagaan dan sebarkanlah mereka di markas bala tentaramu, perbanyaklah inspeksi mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya darimu kepada mereka. Siapa yang lalai dari bala tentaramu dalam menunaikan tugas penjagaan, maka didiklah dengan baik, hukumlah tanpa berlebihlebihan. Buatlah giliran jaga malam di antara mereka, tetapkan masa yang lebih panjang untuk giliran jaga yang pertama, karena ia lebih ringan sebab ia lebih dekat dengan siang;
11.Jangan segan menghukum orang yang berhak dihukum, tetapi jangan melakukannya terus menerus dan jangan tergesa-gesa, jangan mencari-cari alasan untuk tidak menetapkan hukuman;
12.Jangan melalaikan pasukanmu sehingga kamu merusaknya, jangan memata-matai mereka karena kamu akan mempermalukan mereka;
13.Jangan membeberkan rahasia manusia, cukuplah bagi dirimu dengan apa yang nampak dari mereka;
14.Jangan bergaul dengan orang-orang yang suka iseng, sebaliknya bergaulah dengan orang-orang yang jujur dan setia;
15.Hadapilah medan perang dengan hati yang teguh, jangan gentar karena pasukanmu akan ikut-ikutan gentar;
16.Jauhilah mengelapkan harta rampasan perang, karena ia mendekatkan kepada kemiskinan dan menjauhkan kemenangan. Kalian akan melihat orang-orang yang berdiam diri ditempat-tempat ibadah mereka, maka biarkalah mereka dan urusan mereka.
(Disarikan dari buku Muawiyah bin Abu Sufyan, DR. Ali Muhammad Ash-shallabi hlm 23-25)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2014 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , , , ,

Kontrak Sosial Abubakar ra dengan rakyatnya

Ketika Abu bakar ra menjadi khalifah, ia naik ke atas mimbar seraya berkata; “ Wahai sekalian manusia, aku dulu bekerja untuk keluargaku, akulah yang menghasilkan makan buat mereka, namun kini aku bekerja untuk kalian, maka bayarlah aku dari Baitul Maal kalian

Dengan ungkapan ini Abu Bakar telah memberikan penafsiran paling baik dan paling adil terhadap kontrak sosial antara pemerintah dan rakyatnya, beliau telah meletakkan dasar-dasarnya, bahwa kontrak antara rakyat dengan pemerintah adalah sama-sama terikat untuk memelihara kepentingan bersama(MR)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 14 Mei 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Ketegasan dan Tanggung Jawab Umar bin Khatab

Seseorang menghadap Umar Bin Khatab ra sebagai khalifah untuk mengadukan pencurian yang dilakukan oleh pembantunya, kemudian Umar bin Khatab menghadirkan mereka untuk dimintai pendapat, terungkaplah bahwa si majikan tidak mencukupi makanan dan pakaian mereka, dan Umar bin Khatab akhirnya melepaskan si pencuri, sambil berkata kepada sang majikan:”Jika para pelayanmu mencuri lagi, maka tanganmulah yang akan aku potong

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Mei 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , , ,

Tanggung Jawab Umar bin Khatab

Seandainya seekor baghlah(hasil perkawinan silang himar dan kuda) terperosok di Irak, maka aku menganggap dirikulah yang harus bertanggung jawab atasnya di hadapan Alloh SWT; mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Tanggung jawab Umar bin Abdul Aziz terhadap rakyatnya

Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sangat memprioitaskan kesejahtera rakyat dan tegaknya keadilan. Fathimah binti Abdul Malik pernah menemukan suaminya sedang menangis di tempat biaya Umar melaksanakan shalat sunnah. Fathimah berusaha membesarkan hatinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, ”Wahai Fathimah, sesungguhnya saya memikul beban umat Muhammad dari yang hitam hingga yang merah. Dan saya memikirkan persoalan orang-orang fakir dan kelaparan, orang-orang sakit dan tersia-siakan, orang-orang yang tak sanggup berpakaian dan orang yang tersisihkan, yang teraniaya dan terintimidasi, yang terasing dan tertawan dalam perbudakan, yang tua dan yang jompo, yang memiliki banyak kerabat, tapi hartanya sedikit, dan orang-orang yang serupa dengan itu di seluruh pelosok negeri. Saya tahu dan sadar bahwa Tuhanku kelak akan menanyakan hal ini di hari Kiamat. Saya khawatir saat itu saya tidak memiliki alasan yang kuat di hadapan Tuhanku. Itulah yang membuatku menangis.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Cara Umar bin Abdul Aziz mensikapi Bid’ah

Suatu ketika Abdul Malik, putra Umar b Abdul Aziz, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’

Umar b Abdul Aziz menjawab, ”Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 6 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: , ,