RSS

Mahalnya Kuliah di Universitas Negeri….

30 Mei

Tahun ajaran baru 2012 telah mulai,

Orang tua sudah sibuk mencarikan sekolah buat anak-anaknya tercinta,

Mulai mendaftar PAUD/Play Group, SD/MI. SMP/MTS, SMA/SMK/MAN,

Orang tua tidak dipusingkan dengan mencari sekolah saja, tetapi juga mempersiapkan biaya sekolah yang cukup besar,

untuk masuk TK bagus..minimal sedia Rp. 5.000.000,-

untuk masuk SD Negeri yang favorit….minimal sedia RP.3.500.000,-

untuk masuk SMP Negeri..minimal sedia Rp.3,500.000,-

untuk masuk SMA Negeri…minimal Rp.5.000.000,-

untuk masuk perguruan tinggi negeri masing-masing universitasb menetapkan biaya sendiri-sendiri semakin universitas itu terkenal…biayanya semakin mahal,

komponen biaya yang harus disediakan dan dibayar pada saat daftar ulang biasanya uang semesteran, uang sumbangan pengembangan fakultas yang bervariasi besarnya, uang oreantasi mahasisiwa, uang laboratorium kalau jurusan eksakta,

sebagai contoh saja, UGM Yogya yang termasuk kampus tertua di Indonesia, menetapkan biaya untuk sumbangan pengembangan pendidikan dengan nilai minimal 5 juta untuk yang punya pengasilan 1jt s.d 2.5 juta…sedangkan pengasilan 2,5 juta s.d 5 juta sebesar 10juta…terus yang yang pengasilan 5juta s.d 7.5jt harus nyumbang 20jt..dst…lebih mahal lagi fakultas kedokteran sampai 100jt…anehnya dalam penentuan besarnya sumbangan, interval pengasilan yang digunakan hanya 2.5jt tetapi interval sumbangan 10 jt…

dalam hati saya bertanya-tanya…..

para pejabat di UGM dalam menetapkan sumbangan menggunakan logika apa…?

apakah mereka mengesampingkan hati nurani dan pendekatan kemanusiaan…?

mengapa sumbangan besar itu dibebankan juga terhadap mahasiswa yang menempuh jalur SMPTN……..yang sudah berjuang melalui tes untuk berusaha bisa masuk di universitas negeri yang menjadi pilihannya….seharusnya mereka diberi keringaan biaya…..

kalau biaya besar itu dikenakan terhadap CAMA yang melalui jalur mandiri…mungkin masih wajarlah….walaupun harus tetap melihat kemampuan orang tuannya…..

apa mereka tidak berfikir kebutuhan sehari-hari yang semakin naik dan pendapatan yang diterima masyarakat cenderung stagnant…..?

apa mereka tidak berfikir  tentang beban-beban bulanan yang harus ditanggung oleh orang tua, seperti makan, sandang yang harganya semakin melonjak dan juga untuk cicilan rumah……bahkan sebagian masyarakat harus gali lobang tutup lobang……?

klo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari aja kurang..mana mungkin mereka menabung…?

dan mengapa sumbangan itu seolah hanya diperuntukkan buat pns dan buruh saja yang jelas punya struk gaji…yang nantinya harus dilampirkan…padahal..mereka yang punya pekerjaan bebas..dan mungkin punya struk gaji..tetapi penghasilannya bisa ljauh lebih besar…..?

sebagai ilustrasi misalnya…orang yang penghasilannya 5jt…dengan anak jumlah 3(tiga) orang sekolah semua, sang bapak tempat kerjanya jauh dari tempat tinggal keluarganya, sehingga dapurnya mau tidak mau harus dua juga, rumah masih mengangsur….,kalau anaknya daftar di UGM..jika harus mengisi sumbangan yang besarnya minimal 10jt….darimana dia mendapatkan uang sebesar itu…paling melalui hutang…padahal sebelumnya sudah pas-pasan..terus kalau hutang buat ngansurnya gimana….? apalagi utang yang lalu aja untuk memasukkan anaknya sama belum lunas juga. Jika sebelumnya dia harus menabung maka dengan tabungan misalnya 500rb/bulan…maka waktu yang dibutuhkan selama 20 bulan…jika  hanya mampu menyisihkan 250rb…maka butuh waktu….40bulan(sekitar 3 tahun lebih)…itu hanya untuk uang sumbangan doang…sedangkan kalau adiknya ada yang berbarengan masuk sekolah SMA misalnya..yang kemungkinan dimintai sumbangan juga sekitar 5jt…maka..gak akan cukup…bagaimana yang penghasilannya hanya 2,75 jt atau 3jt dengan jumlah anak yang sama…..mungkinkah dia bisa menabung sebesar itu………maka seharusnya para pejabat itu ikut merasakan penderitaan orang tua mahasiswa, sehingga dalam menetapkan besarnya sumbangan,  memperhitungkan beban tanggungan keluarga menjadi variabel penghitungan…jika tidak ….maka sungguh aneeh…..dan tidak adil…

seharusnya interval besarnya Sumbangan Pengembangan Pendidikan/Fakultas(SPP/SPF) tidak dratis, tetapi yang cukup elegant,misalnya seperti ini;

– penghasilan 1jt s/d 2.5jt SPP: 0 s/d 2.5jt,

– penghasilan 2.5jt s/d 5jt     SPP: 2.5jt s/d 7,5jt,

– penghasilan 5jt s/d 7,5jt     SPP: 7,5 s/d 12,5jt,

– penghasilan 7,5jt s/d 10jt    SPP:12.5jt s/d 17.5jt dst,

jadi orang tua diberikan pilihan yang elegant dan tidak membuat orang ketakutan/minder lebih dahulu, dan mestinya sumbangan itu ditentukan ketika mahasiswa udah benar-benar diterima di universitas tersebut….supaya tidak terkesan…CAMA tidak diterima karena ngisi sumbangannya kecil..atau kampus sekarang hanya merekrut orang yang punya uang saja dan bukan orang yang berkualitas…

itu baru contoh di UGM..belum ITB, UI dll…dan

dan sepertinya melihat fenomena seperti itu sudah sering diberitakan dimedia…ternyata pemerintahpun  tidak bisa berbuat banyak…..apalagi dengan dalih otonomi kampus……seolah-olah kampus seperti negara sendiri dalam negara yang tidak boleh dicampuri dan diatur oleh pemerintah…..

UUD ’45 mengamanatkan 20% APBN untuk pendidikan dan sepertinya juga sudah diakomodir…dana sebesar itu ..untuk apa saja……….

kasihan terhadap sebagian msyarakat yang punya penghasilan pas-pasan……punya anak yang kecerdasanya pasa-pasan juga……walaupun punya keinginan kuat untuk bisa kuliah di universitas negeri yang terkenal….tetapi melihat biaya yang ditetapkan duluan dan harus mengisi dengan plot tertentu …maka mereka akan enggan mendaftar karena udah membayangkan besarnya sumbangan…nanti mau diperoleh darimana?…..padahal kalau ikut ujian tertulis SMPTN peluang diterimapun sangat mungkin………(itu ilustrasi saja dengan melihat kondisi ekonomi masyarakat dan negara,

melihat kondisi demikian akhirnya masyarakat punya persepsi….sekolah negeri hanya untuk orang kaya saja,

saya tahun ini mengalami sendiri…anak saya yang kedua pinginnya bisa kuliah di ugm…dan adiknya sekarang mau masuk sma…ketika daftar SNMPTN….dan kebetulan daftar di UGM, maka ada form isian yang wajib diisi berupa besarnya  sumbangan yang sanggup dibayar orangtua kepada UGM, ketika anaknya diterima di UGM, yang mana harus diisi sebelum diterima di UGM… dengan ancaman kalau tidak mengisi akan dimintai sumbangan dengan kategori terbesar,  mendengar sperti itu….. saya kaget juga….jika gak bisa bayar…tidak diakui sebagai mahasiswa yang diterima diUGM….kok tega-teganya membuat kebijakan seperti itu….kemana hati nurani, kemana rasa keadilan…?

dengan sistem seperti itu…ya gak salah jika… masyarakat  berprasangka/beranggapan…….ternyata yang diterima hanya orang-orang yang mengisi sumbangan besar aja…

naah lhooo…gimana coba klo gitu…khan kampus bisa dianggap berpaham kapitalis…..

saya sendiri sadar…memang sekolah butuh biaya yang besar untuk mengembangkan pendidikan…tetapi apakah semuanya harus dibebankan kepada orang tua mahasiswa….padahal saya melihat…UGM atau universitas lain selalu punya kerjasama dengan pemerintah daerah…untuk peningkatan sdm daerah…itu bukan kerjasama yang gratis……atau melakukan kerjasama dengan perusahaan untuk penelitiaan2 dsb…

kampus UGM saya jadikan contoh, karena kebetulan anak saya daftar diUGM…..dan harus mengisi sumbangan yang cukup memberatkan….

saya berharap pemerintah bisa menjembatani persoalan-persoalan pendidikan di atas..dan UGM juga bisa merubah kebijakan tentang besarnya sumbangan yang lebih elegant……dan lebih manusiawi….

mohon maaf jika kurang berkenan….

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2012 in Curhat

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: