RSS

Membentengi Diri dengan Amal Yaumi(bag ke-2)

11 Mei

4.Sholat Dhuha

Sholat dhuha merupakan salah satu diantara ibadah-ibadah sunnah yang selalu dikerjakan oleh Rasululloh SAW sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan Alloh Swt. Mengerjakan sholat sunnah dhuha juga tidak memberatkan, karena dikerjakan pada saat kondisi badan masih fresh, yaitu sebelum melakukan aktivitas atau di sela-sela rehat bekerja di pagi hari. Jumlah rekaatnya minimal 2 rekaat, 4 – 8 rekaat jika mau, tetapi 2 rekaat saja kalau mampu dilakukan secara istiqomah juga sudah cukup, sebagaimana sabda Rasululloh SAW, dari Abu Hurairah r.a” Nabi saw yang tercinta memesankan kepadaku tiga hal, yaitu: berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, mengerjakan dua rakaat dluha dan berwitir dulu sebelum tidur”(HR.Bukhori dan Muslim).

Keutamaan mengerjakan sholat dhuha

a. Sholat dhuha berfungsi sebagai sedekah atas ruas tulang badan manusia

Dari Abu Dzar r.a “ Rasululloh SAW bersabda: “ Hendaklah masing-masingmu setiap pagi bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka tiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang keburukan adalah sedekah dan sebagi ganti dari semua itu cukuplah mengerjakan dua raka’at shalat dhuha (HR.Ahmad,Muslim dan Abu Daud)

b. Sholat dhuha berfungsi untuk meminta kelancaran rizki

Hadits qudsi dari Nuwas bin Sam’an r.a bahwa Alloh ‘Azza wa jalla berfirman:” Wahai anak adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rak’at pada permulaan siang(yakni shalat dluha), nanti akan kucukupi kebutuhanmu pada sore harinya(HR.Hakim dan Tabrani),

Do’a-do’a yang dianjurkan untuk dipanjatkan ketika selesai menjalankan sholat dhuha juga mencerminkan tentang permohonan rizki , yaitu:

Ya Allah, bahwasannya waktu dhuha adalah waktu dhuhaMu dan keagungan adalah keagunganMU,dan keindahan adalah keindahan-MU, dan kekuatan adalah kekuatan-MU, dan kekuasaan adalah kekuasaanMU, dan perlindungan adalah perlindungan-MU, Ya Allah, jika rizkiku ada di atas langit, maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar, maka mudahkanlah, jika (ternyata) haram, maka sucikanlah, jika jauh, maka dekatkanlah, limpahkanlah kepadaku segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-MU yang sholeh.”

5. Sholat sunnah rawatib

Sholat sunnah rawatib merupakan sholat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah sholat fardlu lima waktu. Sholat sunnah Rawatib hampir tidak pernah ditinggalkan oleh  baginda Rasululloh SAW, seperti yang ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a” Saya ingat dari perbuatan nabi saw, ada 10 rakaat sunat rawatib yakni dua rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib di rumahnya, dua rakaat sesudah isya’ di rumahnya, dan dua rakaat sebelum subuh(HR.Bukhari)

Kedudukan dan keutamaan sholat sunnah rawatib

a. Mendapat kebaikan yang berlimpah

Dari Aisyah r.a bahwa Nabi saw bersabda: “Kedua rakaat sunat fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya(HR.Ahmad, Turmudzi dan Nasa’I, Muslim)

b. Dibangunkan sebuah rumah di syurga

Dari Ummu Habibah binti Abu sufyan bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa bershalat dalam sehari-hari duabelas rakaat maka dibangunlah untuknya sebuah rumah di syurga; yaitu empat rakaat sebelum dhuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah isya’ dan dua rakaat sebelum shalat fajar”(HR.Turmudzi, hasan shahih)

6. Tilawah Qur’an

Al-qur’an merupakan wahyu yang diturunkan Alloh SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul terakhir melalui perantaraan malaikat Jibril as, yang berfungsi sebagai pedoman hidup bagi umat manusia dalam menjalankan amanah kekhalifahan di muka bumi, agar tidak tersesat dalam menempuh perjalanan.

Oleh karenanya Al-qur’an seharusnya menjadi bacaan wajib bagi umat islam khususnya. Bahkan dalam risalahnya Imam Syahid Hasan Al-banna memasukkan bacaan Al-qur’an sebagai salah satu wajibatul al-akh, yaitu menjadi wirid harian bagi seorang aktivis da’wah dalam sehari satu juz dan mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan.

Aanjuran dan keutamaan membaca Al-qur’an

a. Bacaan Al-qur’an akan menjadi syafa’at di hari kiamat

« اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه »

  • Dari Abu Umamah Al-Bahili r.a Rasululloh SAW bersabda;Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.[HR. Muslim 804]
  • “Bacalah oleh kalian dua bunga, yaitu surat Al-Baqarah dan Surat Ali ‘Imran. Karena keduanya akan datang pada hari Kiamat seakan-akan keduanya dua awan besar atau dua kelompok besar dari burung yang akan membela orang-orang yang senantiasa rajin membacanya. Bacalah oleh kalian surat Al-Baqarah, karena sesungguhnya mengambilnya adalah barakah, meninggalkannya adalah kerugian, dan sihir tidak akan mampu menghadapinya.” [HR. Muslim 804]
  • ·         An-Nawwas bin Sam’an Al-Kilabi radhiallahu ‘anhu berkata : saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]

b. Akan menjadi sebaik-baik manusia

 (( خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ ))

Dari shahabat‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu‘anhuberkata, bahwaRasulullah shalallahu ‘alaihi wasallambersabda :Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.”[Al-Bukhari 5027]

c. Pembaca Al-qur’an akan bersama malaikat yang mulia

Ummul Mu`minin ‘Aisyahradhiallahu ‘anha berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.”[Al-Bukhari 4937, Muslim 244]

d. Pembaca Al-qur’an seperti mempunyai aroma wangi

Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari 5427, Muslim 797]

e. Pembaca Al-qur’an akan diangkat derajatnya

 (( إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ ))

‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda :“Sesungguhnya Allah dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.”[HR. Muslim 269]

7. Puasa Sunnah

Selain puasa yang diwajibkan oleh Alloh SWT di bulan Ramadhan, Rasululloh SAW juga menganjurkan dan memberikan contoh ummatnya untuk senantiasa berpuasa sunnah di waktu-waktu tertentu, yang mana setiap jenis puasa sunnah tersebut mempunyai keutamaan-keutamaan yang dapat memberi nilai tambah di hadapan Alloh SWT.

Puasa sunnah yang dianjurkan dan sering dikerjakan baginda Rasululloh SAW

a. Puasa enam hari di bulan Syawwal bagaikan puasa satu tahun

Puasa syawal merupakan jenis puasa sunnah yang dilakukan pada bulan syawal selama 6(enam) hari berturut-turut maupun tidak, awal, tengah bulan, atau akhir bulan selain hari tasyriq, yang mempunyai nilai tambah seperti puasa satu tahun secara terus menerus.

Dari Abu Ayyub Al-Anshari, bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan, lalu mengikutkannya dengan enam hari di bulan Syawwal, maka hal itu bagaikan puasa satu tahun.” [H.R. Muslim].

b. Puasa 9 Hari Awal Bulan Dzul Hijjah dan puasa Hari ‘Arafah

  • Dari Abu Dawud dari sebagian istri Nabi r.a, bahwasanya Rasulullah SAW biasa berpuasa: Sembilan hari (awal) Dzul Hijjah, hari ‘Asyura, tiga hari setiap bulan,  dan Senin pertama dan Kamis. [H.R. Abu Dawud dan Ahmad, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani].
  • Dari Abu Qatadah, bahwasanya Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Arafah, maka beliau menjawab:Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. [H.R. Muslim].

Puasa hari Arafah ini disunnahkan bagi orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji. Adapun bagi orang yang melaksanakan ibadah haji, makruh bagi mereka untuk melaksanakan puasa ini dikarenakan Rasulullah SAW, Abu Bakr ra, ‘Umar ra, dan ‘Utsman ra tidak melakukan puasa ini ketika berhaji, dikarenakan orang yang berhaji memerlukan kekuatan pada hari-hari tersebut.

c. Puasa Bulan Muharram(‘Asyura)

  • Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Puasa yang paling baik setelah  Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.” [H.R. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah, dan Ahmad].
  • Kemudian, hari yang paling ditekankan untuk berpuasa pada bulan ini adalah hari kesepuluh. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah ra, bahwasanya; Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), maka beliau menjawab: Menghapuskan satu tahun yang telah lalu.” [H.R. Muslim].
  • Disunnahkan untuk berpuasa juga pada hari yang kesembilan untuk menyelisihi Yahudi dan Nasrani berdasarkan riwayat Muslim, bahwasanya Ibnu ‘Abbas berkata kepada Rasulullah SAW saat beliau berpuasa hari ‘Asyura, “Bukankah ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani?” maka beliau mengatakan:“Tahun depan Insya Allah kita berpuasa hari yang kesembilan.” Namun pada tahun setelahnya, Rasulullah SAW wafat sebelum melaksanakan keinginannya ini. [H.R. Muslim].

d. Puasa Bulan Sya’ban

Istri Nabi r, ‘A`isyah ra mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW puasa lebih banyak daripada di bulan Sya’ban. Beliau dahulu berpuasa Sya’ban sebulan penuh.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].

Adapun hadits lain tentang puasa bulan sya’ban:

 “Jika bulan Sya’ban sudah berlalu setengahnya, maka janganlah kalian berpuasa.” [H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani]

Maksud larangan hadits tersebut adalah jika berniat menyengaja mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa. Namun apabila dia biasa berpuasa pada hari-hari tersebut dan tidak menyengaja untuk mendahului Ramadhan dengan puasa, maka hal ini diperbolehkan, sebagaimana hadits:

 “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari, kecuali orang yang biasa berpuasa padanya, maka silakan berpuasa.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].

e. Puasa hari Senin dan Kamis

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Amalan dibacakan pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amalku dibacakan dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [H.R. At-Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani].

f. Puasa tiga hari setiap bulan (Bulan Qamariah)

  • Rasulullah r bersabda kepada ‘Abdullah bin ‘Amr ra:“Berpuasalah tiga hari tiap bulan. Karena kebaikan dibalas sepuluh kalinya, maka hal itu seperti halnya puasa selamanya.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].
  • Diperbolehkan untuk berpuasa pada tiga hari manapun pada tiap bulan. Akan tetapi, yang lebih disukai untuk berpuasa padanya adalah tanggal 13, 14, dan 15 yang sering disebut dengan yaumul bidh (hari putih).

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW kepada Abu Dzar: “Jika engkau berpuasa setiap bulan tiga hari, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15.” [H.R. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani].

g. Puasa Nabi Dawud As, Puasa Terbaik

Puasa Nabi Dawud adalah berpuasa sehari kemudian berbuka sehari demikian seterusnya. Rasulullah SAW menganjurkan kepada ‘Abdullah bin ‘Amr ra saat dia bertekad untuk berpuasa siang hari dan shalat malam tiap harinya selama dia hidup:

“Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasa Nabi Dawud as, dan itu adalah puasa yang paling adil.” Abdullah menukas, “Aku mampu yang lebih baik dari ini.” Rasulullah SAW pun menjawab (artinya), “Tidak ada puasa yang lebih baik darinya.” [H.R. Al-Bukhari dan Muslim].

                                                                                                                              Bersambung…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2012 in Artikel Islam

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: