RSS

Islam Mengajarkan Kasih Sayang

02 Feb

Tanggal 14 Februari menjadi hari kasih sayang atau yang lebih dikenal dengan valentine day. Dan hari itu dirayakan oleh semua manusia didunia dari berbagai latar belakang agama dan budaya,walaupun tidak sesuai dan sejalan dengan agama dan budaya mereka. Para generasi muda merayakan valentine day dengan makna yang sangat sempit, yaitu bagaimana mereka pada hari itu mengaktualisasikan cinta dan kasihnya dalam bentuk “tanda kasih” dengan melakukan pergaulan bebas antara lawan jenis, mereka saling bermesraan satu sama lain tanpa ada ikatan yang sah, bahkan ada yang menjadi ajang untuk membuktikan apakah diantara mereka berdua benar-benar saling menyayangi atau tidak, sehingga seorang gadis mempersembahkan mahkota yang paling berharga kepada pasangannya sebagai bukti cinta sebelum akad nikah.
Sebenarnya ‘kasih sayang’ bukan terjemahan dari kata valentine, karena dalam kamus bahasa inggris vakelentine artinya tanda kasih, hanya di Indonesia lebih familiar hari valentine dimaknai dengan hari kasih sayang. Kalau “kasih sayang” sesungguhya bagi umat islam kata yang tidak asing,karena merupakan salah satu sifat Alloh swt yaitu ‘ar-rahmaan dan ar-rahiim‘ sebagaimana disebutkan dalam lafadz ‘Bismillahirrohmaanirrohiim’. Didalam al-qur’an kata ar-rahiim banyak disebutkan yang artinya “penyayang”. Oleh karenanya umat islam diperintahkan Alloh SWT dan RasulNya untuk selalu bersikap mengasihi dan menyayangi kepada semua makhluq yang ada dimuka bumi ini,karena dengan kasih sayang yang dimiliki setiap hamba dan ditebarkan kepada semua makhluq yang ada dimuka bumi ini tanpa kecuali, maka akan tercapai kedamaian.

Kasih sayang yang dilakukan seorang muslim seharusnya diberikan secara benar sesuai dengan syari’at Alloh SWT dan yang  dicontohkan Rasululloh SAW:

1. Anak kepada orangtua

Menghormati,mentaati,mengasihi,menyayangi, dan mendo’akan orang tua adalah kewajiban bagi orang-orang yang beriman, hal itu ditegaskan oleh Alloh SWT dalam Al-qur’an:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً ﴿٢٣﴾ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً ﴿٢٤

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”, Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”(17:23-24)

Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya  kepeda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Perama shalat pada waktu (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

2. Orang tua kepada anak

Anak merupakan anugerah, rizki dan sekaligus amanah yang diberikan Alloh SWT kepada kita. Ketika sesorang telah menikah pasti mengharapkan dikaruniai anak, saat anak lahir orang tua akan merasa senang dan gembira, betapa sedih pasangan suami istri yang sudah menikah bertahun-bertahun tetapi belum dikarunia keturunan,sehingga bagi suami yang tidak takut kepada Alloh SWT tidak punya anak menjadi alasan untuk berselingkuh,sedang bagi suami yang takut kepada Alloh SWT mengambil jalan yang poligami.

Menyayangi anak, baik anak kandung maupun selain anak kandung merupakan kewajiban bagi setiap manusia, lebih-lebih kepada anak-anak yatim. Bentuk kasih sayang orang tua terhadap anaknya dengan mengajari tentang agama agar menTauhidkan Alloh SWT dan meneladani Rasululloh SAW,mempunyai akhlaq yang baik, memberikan pendidikan yang bermanfaat bagi agama, nusa, bangsa dan masyarakat, memberinya makan pakaian, bersikap lembut dan tidak kasar sebagaimana dicontohkan Rasululluh SAW dalam menyayangi cucunya Hasan dan Husen, sehingga ketika beliau sholat pada saat sujud cucunya naik dipunggungnya, kemudian beliau sujud lama sekali menunggu cucunya turun dari punggungnya.

Kisah luqman dalam mendidik anaknya juga diabadikan dalam Al-qur’an:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ ﴿١٧

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”(31:17)

3. Istri kepada suami dan sebaliknya

Hubungan antara laki-laki dan perempuan harus diikat dengan tali pernikahan atas dasar cinta dan taat kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya, bukan hubungan tanpa ikatan perkawinan yang diharamkan Alloh SWT, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak mau berpegang pada norma agama, dimana mereka menjalin hubungan bebas atau istilahnya “kumpul kebo”, suatu istilah yang menggambarkan perilaku kebinatangan yang hanya menggunakan naluri saja dalam menjalani kehidupannya, tidak tahu norma yang benar dan yang salah, tidak berfikir dalam melakukan sesuatu.

Hubungan suami istri yang sudah diikat dengan sah melalui pernikahan, agar berjalan dengan baik sebagaimana yang dijanjikan ketika awal pernikahan “ingin sehidup semati” harus dibarengi rasa saling mengenali, saling memahami, saling member, saling menerima, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengasihi, dan saling mengorbankan. Apabila “rasa saling” tersebut bisa dipegangi oleh suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga, maka apa yang dicita-citakan menjadi rumah tangga yang sakinah, mawadah wa rohmah akan tercapai.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجاً لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ﴿٢١

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.(30:21)

4. Antar sesama manusia.

Semua umat manusia yang ada didunia ini sesungguhnya berasal dari N Adam AS dan Hawa, makhluq pertama yang diciptakan Alloh SWT, lalu kemudian melahirkan keturunan yang banyak mendiami bumi yang demikian luas, tersebar dari ujung timur sampai ujung barat dengan beragam bangsa dan Negara, beragam suku, beragam agama,beragam bahasa, dan beragam warna kulit. Dengan beragamnya manusia tersebut, Alloh SWT memerintahkan agar antara satu dengan yang lain saling mengenal, sebagaimana disebutkan dalam Al-qur’an

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ﴿١٣

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(49:13)

Menyayangi Anak Yatim dan Mengasihi Fakir Miskin

لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿١٧٧

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orangorang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqoroh:177)”

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١﴾ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢﴾ وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣﴾ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ ﴿٦

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,orang-orang yang berbuat riya.(107:1-6)

“Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukannya ke surga, kecuali bila ia berbuat dosa besar yang tidak terampuni.”(HR. Turmudzi)

“Barangsiapa meletakkan tangannya di atas kepala anak yatim dengan penuh kasih sayang, maka Allah akan menuliskan kebaikan pada setiap lembar rambut yang disentuh tangannya. (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Aufa)

Memuliakan Tetangga dan Tamu.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. [HR Muslim]

5. Kepada makhluq lain

Di bumi ini Alloh SWT selain manusia ada makhluq lain yaitu : jin, hewan, dan tumbuhan, tetapi yang menajdi khalifah dimuka bumi ini adalah manusia, sebagaimana ditegaskan dalam

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ ﴿٣٠

 Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.“( QS 2:30.)

Jin adalah makhluq Alloh yang tidak bisa dilihat manusia, mempunyai kehidupan seperti manusia, oleh karenanya manusia harus bersikap baik kepada jin,seperti: tidak membuang air panas di lubang-lubang tertentu sebagai tempat tinggal jin,tetapi manusia tidak diperbolehkan meminta pertolongan dan perlindungan kepadanya, karena dia akan menyombongkan diri, ditegaskan dalam alqur’an

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً ﴿٦

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”(QS72:6)

Hewan diciptakan Alloh SWT sebagai sarana untuk mengemban khalifah dimuka bumi,dapat digunakan sebagai kendaraan, binatang ternak yang dihalalkan Alloh SWT dapat dimakan, oleh karenanya kita juga harus berbuat baik kepadanya, tidak boleh menyiksa dan menyakiti, bahkan jika manusia akan menyembelih hewan untuk keperluannya harus dengan cara yang baik menggunakan pisau yang tajam dengan menyebut nama Alloh SWT. Ada suatu kisah seorang wanita pezina masuk syurga karena menolong seekor anjing kehausan hampir sekarat.

Tumbuhan diciptakan Alloh SWT juga untuk kepentingan manusia, oleh karenanya manusia harus menjaga, memelihara segala tumbuhan untuk kemakmuran dan kesejahterannya, tidak boleh melakukan eksploitasi besar-besaran tanpa memperhatikan kelestariannya, karena akan berakibat malapetaka bagi manusia.

Itulah bentuk kasih sayang yang sebenarnya, yang merupakan tujuan Alloh SWT menciptakan makhluq-Nya di muka bumi agar saling mengasihi dan menyayangi sesuai dengan yang disyariatkan-Nya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Februari 2012 in Artikel Islam

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: