RSS

Arsip Bulanan: Februari 2012

Harapan Umar bin Khatab

Saya senang jika dapat keluar dari dunia ini dengan impas: tidak mendapat pahala dan tidak mendapat dosa

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2012 in Pesan Hikmah

 

Tag: , ,

Tanggung Jawab Umar bin Khatab

Seandainya seekor baghlah(hasil perkawinan silang himar dan kuda) terperosok di Irak, maka aku menganggap dirikulah yang harus bertanggung jawab atasnya di hadapan Alloh SWT; mengapa aku tidak meratakan jalan untuknya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2012 in Kisah Keteladanan

 

Tag: ,

Tanah air menurut Islam

Pengertian tanah air dalam pengertian Islam yang merupakan penjabaran dari nasionalisme menurut Hasan Al-banna mencakup:

1. Mulai dari wilayah khusus, yaitu negara dimana seorang bertempat tinggal;

2. Kemudian membentang ke berbagai negeri Islam lainnya;

3. Kemudian meningkat menjadi seperti imperium Islam pertama yang telah dibangun oleh para pendahulu dengan darah mereka yang berharga, hingga panji Alloh dapat dikibarkan di sana. Dan hingga kini wilayah tersebut masih menyimpan peninggalan sejarah yang menceritakan jasa dan kemuliaan mereka;

4. Kemudian tanah air Islam yang mencakup seluruh dunia.

(Risalah Pergerakan)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Februari 2012 in Pemikiran Hasan Al-banna

 

Tag: , , ,

Optimisme Imam Hasan Al-Banna

Kami yaqin bahwa penghalang antara kita dan kesuksesan adalah keputusasaan. Apabila harapan menguat dalam jiwa kita, maka insyaAlloh kita akan sampai pada kebaikan yang banyak”(Risalah Pergerakan)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2012 in Motivasi

 

Tag: , , ,

Perbedaan itu suatu Keniscayaan

Imam Syahid Hasan Al-Banna, tokoh pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin di Mesir berpendapat bahwa perbedaan dalam berbagai cabang agama merupakan suatu yang niscaya, tidak mungkin kita bisa bersatu dalam masalah-masalah cabang, pendapat dan madzab, hal ini disebabkan adanya beberapa hal;

1. Perbedaan Intelektualitas

Perbedaan intelektualitas ini meliputi; kekuatan dan kelemahan dalam menyimpulkan hukum, pemahaman dan ketidakfahaman terhadap berbagai indikasi, pendalaman makna dan kemampuan merangkai sebagian hakekat dengan hakekat lain.

Agama ini merupakan ayat-ayat, hadits-hadits dan nash-nash yang ditafsirkan oleh akal sesuai bahasa dan kaidah kaidahnya, sementara kemampuan manusia benar-benar tidak sama.

2. Adanya keluasaan dan sempitnya ilmu.

Suatu ilmu terkadang sudah sampai kepada sesorang tetapi belum tentu sampai kepada orang lain, karena faktor geografi dan waktu.

3. Perbedaan Lingkungan

Seorang imam madzab di suatu tempat  dan lingkunganyang berbeda dapat memberi fatwa yang berbeda dalam suatu masalah yang sama, tetapi tetap bersumber pada nash yang benar, contohnya Imam Syafi’i memberi fatwa al-qoul al-gadim(pendapat lama) saat di Irak dan memberi fatwa al-qaul al-jadid(pendapat  ketika di Mesir.

4. Perbedaan Tingkat Keyakinan Hati pada Riwayat hadits yang disampaikan

Terkadang mendapati perawi hadits ini terpercaya menurut imam ini, sehingga hatinya tentram dan mantab menerima riwayat hadits, tetapi terkadang perawi ini cacat menurut imam yang lain.

5. Perbedaan dalam menentukan tingkat kekuatan dalil

Seorang ulama ada yang menganggap amal manusia lebih diutamakan daripada hadits ahad(hadits yang diriwayatkan satu orang), sementara ulama lain tidak sependapat dengannya.

(sumber buku Risalah Pergerakan)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2012 in Pemikiran Hasan Al-banna

 

Tag: , ,

Imam Malik mensikapi Perbedaan

Imam Malik berkata kepada Abu Ja’far; “Sesungguhnya para sahabat Rasululloh SAW tersebar dibarbagai kota, setiap mereka memiliki ilmu tertentu. Jika saya membawa mereka pada satu pendapat, maka akan muncul fitnah“(sumber MR)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Februari 2012 in Pesan Hikmah

 

Tag: , , ,

Abu Hanifah dan Ilmuwan Atheis

Pada Zaman Imam Abu Hanifah hiduplah seorang ilmuwan besar, atheis dari kalangan bangsa Romawi. Pada suatu hari, Ilmuwan Atheis tersebut berniat untuk mengadu kemampuan berfikir dan keluasan ilmu dengan ulama-ulama Islam. Dia hendak menjatuhkan ulama Islam dengan beradu argumentasi. Setelah melihat sudah banyak manusia yang berkumpul di dalam masjid, orang kafir itu naik ke atas mimbar. Dia menantang siapa saja yang mau berdebat dengannya. baca selanjutnya…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Februari 2012 in Wawasan

 

Tag: , ,