RSS

Memotret Cita-Cita menjadi Anggota Dewan

08 Mar

Sebagaimana Negara-negara lain didunia, setiap periode lima tahunan di Indonesia juga diselenggrakan pesta demokrasi untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR RI, DPD, DPRD Tk I, dan DPRD Tk.II. Pesta demokrasi tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit tetapi mampu menyedot dan menghabiskan dana APBN trilyunan rupiah, di sisi lain masih banyak masyarakat yang menjerit akibat kesulitan ekonomi; ada yang mengais-ngais rizki dari sisa-sisa makanan, ada yang makan nasi aking, tinggal dibedeng-bedeng bantaran sungai dan di pinggiran rel kereta api.Ironisnya kondisi masyarakat kelas bawah tersebut justru menjadi sasaran empuk kampanye para caleg partai peserta pemilu memberikan janji-janji muluk untuk membela dan menperjuangkan kesejahterakan mereka, dan masyarakatpun dibuat tak berdaya dengan slogan kampanye para caleg partai tersebut, bahkan ada sebagian yang mati-matian membela sampai titik darah penghabisan kepada caleg/partai yang didukungnya.

Tetapi bagaimana setelah pesta demokrasi selesai digelar dan para caleg sudah duduk dikursi terhormat, ternyata rakyat kecil yang dulunya menjadi pendukung, tarap kehidupannya tetap saja tidak berubah, bahkan ketika barang-barang kebutuhan pokok terus menanjak naik dan biaya pendidikan bertambah mahal, rakyat kecillah yang paling menanggung beban berat dan para anggota dewan serta para pejabat yang dulunya mengumbar janji, seolah tidak mampu berbuat apa-apa.

Sistem pemilu memberi ruang kepada orang-orang yang punya ambisi untuk mencalonkan diri menjadi anggota dewan yang terhormat, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Apalagi dengan sistem pemilu yang menggunakan suara terbanyak, yang mana memberi peluang nomor urut berapapun, asal punya suara terbanyak maka dialah yang ditetapkan menjadi anggota dewan. Sistem ini akan memotivasi calon untuk meriah suara sebanyak-banyaknya agar bisa duduk dikursi legeslatif, dengan berbagai cara dilakukan untuk meraih simpati masyarakat, baik yang diperbolehkan maupun yang dilarang, seperti; memperbanyak silaturahim kepada tokoh-tokoh masyarakat yang punya simpul massa, dengan melakukan dialog tentang program yang dijanjikan, membentuk tim sukses untuk melakukan direct selling, bahkan ada juga yang menggunakan cara praktis melalui politik uang dengan menggunakan uang pribadi/uang orang tua karena kebetulan kaya atau berutang, dengan harapan jika nanti sudah terpilih akan mampu mengembalikan modal tersebut. Dan modal yang dibutuhkan juga tidak sedikit, ratusan juta samapi milyaran, apalagi kalau sang calon tidak dikenal dimasyakarat daerah pemilihannya dan tidak mau terjun menyapa mereka, tentunya uang untuk mempengaruhi pemilih juga semakin besar.

Makanya tidak heran jika seorang yang sudah mengeluarkan modal banyak, setelah jadi akan berfikir bagaimana caranya mengembalikan/menutup modal/utang itu terlebih dahulu, bukan fokus untuk memperjuangan kepentingan rakyat. kalau akhirnya jadi memang gak begitu masalah, tetapi jika nasib belum berpihak kepadanya, sudah keluar uang banyak tetapi gak jadi, akhirnya ada yang stress lalu menjadi gila, bahkan ada yang gantung diri dll.

Dari fenomena tersebut, kalau kita coba golongkan berdasarkan oreantasi seseorang ingin menjadi pejabat publik(legeslatif), dapat dibagi atas 3(tiga) oreantasi, yaitu:

1. Orientasi Perjuangan

Orieantasi ini biasanya dimiliki oleh para aktivis gerakan mahasiswa atau lembaga swadaya masyarakat yang mempunyai idialis dan daya kritis tinggi untuk melakukan perubahan terhadap kondisi yang ada atau karena dorongan nilai-nilai idiologis yang melekat dalam diri dan kelompoknya yang menuntut untuk diaktualisasikan dalam tataran realita bukan sekedar normatif saja agar perubahan menjadi lebih baik dapat dilakukan secara massif dan terorganisir, maka mereka membuat partai atau bergabung dengan partai yang suadah ada untuk mewujudkan cita-citanya.

Akan tetapi terkadang mempertahankan idialisme disaat menjadi mahasiswa lebih mudah, karena pada saat itu beban-beban yang harus dia tanggung belum banyak dan belum terlalu menuntut terhadap dirinya, seperti; keluarga(istri,anak,mertua,ortu), di sisi lain lingkungannya juga masih mempunyai nada dan irama yang sama atau dapat dikatakan ibaratnya masih menghadapi realitas hidup yang semu. Tetapi disaat menghadapi realitas kehidupan yang sebenarnya, seperti; tuntutan hidup keluarga, sedangkan godaan materi berada di depan mata, terkadang ada juga para aktifis yang akhirnya bertekuk lutut dengan keinginan hawa nafsu, dan idialismepun sedikit demi sedikit mulai luntur, ruh perjuangan yang awalnya menggelora lambat laun menjadi redup dan hilang. Memang itulah godaan manusia di dunia yang tidak terlepas dari tiga ta,yaitu; tahta,wanita dan harta.

Perubahan oreantasi itu sebenarnya juga bisa dicegah atau diminimalisir, melalui mekanisme control secara kontinu dan ketat oleh lembaga atau partai dimana seseorang bernaung, dengan pembinaan mental dan spiritual yang terus menerus, sehingga akan selalu tertanam dalam diri seseorang jiwa selalu diawasi oleh Tuhan dan tumbuh rasa takut hanya pada hukum Tuhan, selalu dilakukan pertemuan-pertemuan yang rutin dengan orang-orang yang sholeh untuk bisa selalu mengingatkan, dan sebelum atau pada saat sesorang di calonkan dilakukan penandatangan kontrak politik/kontrak sosial untuk tetap istiqomah dijalan yang benar, jika tidak maka partai akan memberikan sanksi pemecatan atau PAW.

Jika  orientasi perjuangan ini senantiasa tyerus membara, ditengah-tengah godaan dunia yang senantiasa menantang, maka amanah yang dibebankan Tuhan dan rakyat kepadanya akan berjalan dengan baik, dan akan menjadi ladang amal ibadah yang balasannya surga diakherat kelak, dan masyarakatpun tidak merasa kecewa dengan pilihannya.

2. Orientasi Pekerjaan

Pekerjaan merupakan hal yang didambakan setiap manusia yang sehat, dengan pekerjaan seseorang akan merasa berharga dihadapan orang lain, disamping akan meningkatkan tarap kehidupannya, apalagi kalau pekerjaan yang diperoleh tidak perlu menguras tenaga dan pikiran, tetapi mempunyai pendapatan yang besar, maka banyak orang yang memimpikannya. Oreantasi ini sangat mungkin terjadi dalam pencalonan emnajdi anggota dewan, apalagi kalau kita lihat jumlah  pengangguran tingkat sarjana cukup tinggi.

Perubahan orentasi juga mungkin terjadi,dimana seseorang diawal pencalonan masih punya niat perjuangan tetapi ditengah jalan orentasi berubah mencari materi atau pekerjaan, karena merasakan nikmat atau empuknya kursi kekuasaan atau kehormatan, apalagi kalau awalnya ketika masih menjadi pejuang tidak punya apa-apa, pola hidup apa adanya, ibarat  nasi sepiring buat berdua, tapi ketika sudah menjadi pejabat atau anggota dewan berubah dratis pola hidupnya, mulai cara berpakaian, cara berjalan, cara makan, sering berganti hanphone, susah ditemui karena alasan banyak kesibukan dan lain-lain.

Kondisi demikian dapat dikatakan suatu hal yang wajar, karena manusia adalah makhluq yang penuh dengan kelemahan, sebagaimana firman Alloh SWT: ‘al-insanu anil khoto’ wannisyan’ atau manusia itu tempatnya lupa dan lemah, dan Alloh SWT dalam al-qur’an juga memperingatkan bahwa;”dijadikan indah pandangan manusia terhadap wanita, anak, harta(kuda/mobil,emas,rmh), tetapi itu hanya kesenangan hidup didunia yang sebentar, dibalik itu ada kehidupan akherat yang lebih baik dan kekal“, namun manusia lebih memilih kenikmatan hidup di dunia semata dan melupakan kehidupan akherat.

Apabila orientasi seperti ini terus menerus melekat dalam diri para pajabat dan anggota dewan, maka dari pemilu ke pemilu berikutnya, hasilnya akan sama saja, tak akan ada perubahan yang berarti, yang ada hanyalah pemborosan uang rakyat yang ditarik dari pajak.

3. Orientasi Prestise

Menurut Maslow, aktualisasi diri merupakan puncak kepuasan kebutuhan manusia, setelah kebutuhan dasar(pangan,sandang,papan). Orentasi tersebut biasanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah mapan dan berlebih secara ekonomi, walaupun tidak menutup kemungkinan niat seorang yang sudah kaya menjadi pejabat atau anggota dewan agar lebih mempermudah dan memperlancar bisnisnya.

Jika orientasi seorang pejabat atau anggota dewan seperti ini, maka akan berakibat mengorbankan kepentingan rakyat banyak, karena yang dikejar hanya kepuasan pribadi saja, yang mana manusia akan selalu kurang dan kurang.

Disinilah tugas partai untuk selektif dalam merekrut calon anggota dewan atau yang akan diajukan menduduki jabatan tertentu, harus membuat komitmen dan mekanisme kontrol yang kuat. Jika hal ini mampu dilakukan pada setiap partai politik, pengawasan masyarakat juga dilakukan secara baik, dan masyarakat konstituen juga tidak berpikir pragmatis,  maka masyarakat indonesia akan menikmati kemakmuran, keadilan dan kesejahteraan sebagaimana yang sudah diamanahklan oleh undang-undang.

Wallohu a’lam bi showab

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Maret 2012 in Opini

 

Tag: , , ,

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: