RSS

Ciri-ciri Pemimpin yang Sukses dalam Islam

31 Jan

Memegang tampuk kepemimpinan merupakan suatu amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya diakherat kelak, oleh karenanya seorang muslim yang mengemban amanh kepemimpinan harus betul-betul menunaikannya dengan baik, sesuai dengan tuntunan dan keteladanan Rasululloh Muhammad SAW , juga  para shohabat serta tabi’in pada masa itu, dimana meraka telah suskes menjadi pemimpin ummat.  Apabila para pemimpin di negeri Indonesia ini  mau berkaca dan meneladani para pemimpin-pemimpin terdahulu, maka amanah yang diberikan Alloh SWT tersebut akan dapat tertunaikan dengan sebai-baiknya.

Disini dapat kita cuplik ciri-ciri dan gaya kepemimpinan para shahabat pada masa itu yang dapat kita teladani bersama, diantaranya;

1. Pemimpin harus teguh pendirian dan selalu minta pertolongan kepada Alloh SWT.

Kisah Lukman Hakim bersama anaknya dengan satu himar: suatu hari Luqman Hakim masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar dan anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman tersebut, setengah orang yang melihatnya berkata, ‘Lihatlah orang tua itu tidak punya perasaan, dia naik himar sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”  Setelah mendengarkan pembicaraan orang-orang dipasar, maka Luqman pun turun dari himarnya, lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak enakan menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu.” Mendengarkan orang-orang ramai membicarakan dirinya, Luqman pun terus naik ke atas himar bersama-sama dengan anaknya. Orang-orangpun masih ramai mengatakan lagi, “Lihat dua orang tersebut teganya menaiki seekor himar, apa nggak menyiksa himar itu.”   Oleh karena tidak suka mendengar perkataan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai.”  Dalam perjalanan mereka kedua pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasehati anaknya tentang sikap manusia dan celoteh mereka, katanya, “Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran, bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna kecuali baginda Rasululloh SAW, yang ada adalah manusia yang selalu berusaha menyempurnakan diri. Apabila yang sudah kita programkan dan lakukan berdasarkan norma dan aturan yang ada benar, maka kita harus berpegang teguh untuk menjalankan dengan meminta pertolongan kepada Alloh SWT. Segala bentuk kritik dari orang banyak dapat menjadi masukan untuk penyempurnaan tetapi tidak semua masukan harus dipakai, jika menurut situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Petunjuk dari sang Khaliqlah yang lebih utama.

2. Pemimpin harus tegas dalam bersikap

Ketika Abu bakar As-shidiq R.A diangkat menjadi khalifah pertama sepeninggal Rasululloh SAW, dimana saat itu telah banyak terjadi pemurtadan dan pembangkangan dalam membayar zakat, maka langkah yang beliau lakukan adalah :

a.  Memerangi orang-orang yang tak mau membayar zakat dengan mengatakan: ……Demi Allah! Benar-benar aku akan memerangi orang-orang yang membeda-bedakan antara sholat dengan zakat. Karena sesungguhnya zakat itu adalah hak atas harta…..

b. Memerangi Musailamah Al-Kadzab yang pada masa hayat Rasulullah SAW sudah mengaku sebagai Nabi, dan ketika Rasululloh SAW wafat, orang-orang Arab banyak yang Murtad dari Islam, maka Musailamah semakin mendapat kekuatan dalam mengangkat dirinya sebagai nabi, sehingga Abu Bakar R.A. memutuskan untuk memerangi mereka. Dan Allah SWT, memberikan kekuatan kepada Islam sehingga Musailamah dapat dibunuh. Namun, pada pertempuran itu sebagian besar sahabat yang Syahid adalah para Hafidz Al-Quran.

Abu Bakar as-Shidiq R.A adalah sosok sahabat yang dikenal sangat lembut, tetapi ketika diangkat menjadi khalifah dan harus memutuskan sesuatu yang dapat mengancam eksistensi Islam dan Negara, maka tidak segan-segan bertindak tegas. Ketegasan sikap yang didasari dengan ilmu dan keyakinan terhadap kebenaran sangat diperlukan sebagai seorang pemimpin.

3. Pemimpin harus punya rasa empati dan tanggung jawab yang tinggi terhadap rakyatnya.

a. Umar bin Abdul Aziz sangat bersedih ketika diberi jabatan (amanah) oleh umat untuk menjadi Khalifah , ini dikisahkan oleh isterinya, Fatimah yang melihat Umar sedang menangis di kamarnya. Fatimah pun menanyakan apa yang terjadi pada diri suaminya. Lalu Umar menjawab, “Ya Fatimah, saya telah dijadikan penguasa atas kaum muslimin dan orang asing, saya memikirkan nasib kaum miskin yang sedang tertimpa kelaparan, kaum telanjang dan sengsara, kaum tertindas yang sedang mengalami cobaan berat, kaum tak dikenal dalam penjara, orang-orang tua yang patut dihormati, orang yang mempunyai keluarga besar namun penghasilannya sedikit, serta orang2 dalam keadaan serupa di Negara-negara di dunia dan propinsi-propinsi yang jauh. Saya merasa bahwa Tuhanku akan bertanya tentang mereka pada Hari Berbangkit dan saya takut bahwa pembelaan diri yang bagaimana pun tidak akan berguna bagi saya. Lalu saya menangis.”  Subhanallah begitu sedihnya beliau menerima jabatan itu.

Tugas negara adalah mengubah teori menjadi kenyataan, mengubah norma menjadi undang-undang, dan memindahkan keindahan etika .menjadi praktek sehari-hari.”  (Yusuf Qardhawi )

b. Umar bin Khatab RA adalah sosok sahabat Rasululloh SAW yang dikenal pemberani, tetapi sering menangis karena takut akan adzab Alloh SWT. Ada hal-hal yang bisa diteladani ketika beliau diangkat menjadi khalifah/pemimpin umat menggantikan Abu Bakar As-Shidiq RA.

Umar bin Khatab RA sering melakukan inspeksi atau ’meronda’ untuk melihat berbagai permasalahan yang sedang di alami rakyatnya. Suatu malam Umar RA mendengar tangisan anak-anak dari sebuah rumah kumuh, kemudian dari pinggiran jendela Umar RA mendengar, sang ibu sedang berusaha menenangkan anaknya, yang sedang menangis karena kelaparan. Sang ibu tidak memiliki apapun untuk dimasak malam itu, lalu sang ibupun berpura-pura merebus batu, agar anaknya tenang dan berharap anaknya dapat tertidur karena kelelahan menunggu. Sambil merebus batu dan tanpa mengetahui kehadiran Khalifah Umar RA diluar jendela, sang ibupun bergumam mengenai betapa enaknya hidup khalifah negeri ini dibanding hidupnya yang serba susah. Mendengar pembicaraan sang ibu, membuat Umar RA tak dapat menahan tangisnya, kemudian beliau bergegas pergi meninggalkan rumah tersebut menuju ke gudang makanan yang ada di kota, lalu mengambil sekarung bahan makanan dan dipanggul sendiri untuk diberikan kepada keluarga yang sedang kelaparan itu. Sesampainya dirumah ibu dan anaknya yang sedang kelaparan, Umar RA memasakkan makanan dan  menemani keluarga itu makan, dan bahkan masih sempat pula menghibur sang anak hingga tertidur sebelum ia pamit untuk pulang. Dan keluarga itu tak pernah tahu bahwa yang datang mempersiapkan makanan buat mereka malam itu adalah khalifah Umar bin Khatab !

Umar bin Khattab RA ketika menjadi khalifah pernah berkata ” Jika ada keledai yang tergelincir di madinah, maka aku harus bertanggung jawab atasnya karena aku tidak membuatkan jalan untuknya

Perhatian dan tanggung jawab yang tinggi seorang pemimpin kepada rakyatnya inilah yang harus ditunaikan karena ketika diyaumul hisab akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh SWT atas kepemimpinannya.

4. Pemimpin harus menjadi contoh sederhana dalam kehidupannya

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah pernah menghimpunkan sekumpulan ahli fiqh dan ulama kemudian beliau berkata kepada mereka: “Aku menghimpunkan kamu semua untuk bertanya pendapat tentang perkara yang berkaitan dengan barangan yang diambil secara zalim yang masih berada bersama-sama dengan keluarga aku?” Lalu mereka menjawab: “Wahai Amirul Mukminin! perkara tersebut berlaku bukan pada masa pemerintahan kamu dan dosa kezaliman tersebut ditanggung oleh orang yang mencerobohnya.” Walau bagaimanapun Umar tidak puas hati dengan jawapan tersebut sebaliknya beliau menerima pendapat daripada kumpulan yang lain termasuk anak beliau sendiri Abdul Malik yang berkata kepada beliau: “Aku berpendapat bahawa ia hendaklah dikembalikan kepada pemilik asalnya selagi kamu mengetahuinya. Sekiranya kamu tidak mengembalikannya, kamu akan menanggung dosa bersama-sama dengan orang yang mengambilnya secara zalim.” Umar berpuas hati mendengar pendapat tersebut lalu beliau mengembalikan semula barangan yang diambil secara zalim kepada pemilik asalnya. Kemudian Umar bin Abdul Aziz langsung mengajukan pilihan kepada Fatimah, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya,“Isteriku sayang, aku harap engkau memilih satu di antar dua.”

Fatimah bertanya kepada suaminya;“Memilih apa, kakanda?” Umar bin Abdul Azz menerangkan;“Memilih antara perhiasan emas berlian yang kau pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu.” Kata Fatimah:“Demi Allah, Aku tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, ya Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku.” Kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, kas Negara kaum muslimin. Sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yaitu roti dan garam sedikit.

5. Pemimpin harus mampu menjadi solusi dalam mengentaskan kemiskinan

Masih kisah khalifah Umar b Abdul Aziz yang dalam masa pemerintahan kurang lebih 2, 5 Tahun tetapi berhasil mensejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Tak satu pun mahluk dinegerinya menderita kelaparan, tak ada serigala mencuri ternak penduduk kota, tak ada pengemis di sudut-sudut kota, tak ada penerima zakat karena setiap orang mampu membayar zakat. Lebih mengagumkan lagi, penjara tak ada penghuninya, karena semenjak beliau di angkat menjadi Khalifah, bertekad dan berjanji tidak akan mengecewakan amanah yang di embannya. Bahkan Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai orang miskin seorangpun”.

Di bidang fiskal, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Kebijakannya itu telah menumbuhkan simpati dari kalangan non Muslim sehingga mereka berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Umar bin Abdul Aziz rahimakumulloh berhasil mengelola negara dan memanifestasikan hadits Nabi SAW, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim

6. Pemimpin harus bersikap adil terhadap siapapun yang terdlolimi

Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua. Suatu ketika sang gubernur berguman: “Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah masjid.” Kemudian Yahudi tua  itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran. “Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur. Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran dan dibangunlah masjid agung, sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Merasa didlolimi oleh sang gubernur, Yahudi tuapun menghadap kepada Khalifah Umar bin Khattab RA untuk mengadukan kesewang wenangan Amr bin Ash. Tanpa protokoler yang rumit sampailah diistana khalifah, kemudian Umar bin Khatab bertanya: “Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?” Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu. Begitu mendengar cerita kakek tua, merah padam wajah Umar, kemudian berkata:“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!”. “Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang. Setelah diambilkan tulang oleh si kakek tua, Umarpun menggores tulang itu dengan pedangnya, lalu berkata: “Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan. Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif. Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu. “Tunggu!” teriak sang kakek. “Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Amr bin Ash memegang pundak si kakek, “Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”  “Tapi…..” sela si kakek. “Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!” jelas sang gubernur. “Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.

7. Pemimpin harus mampu menciptakan kedamaian

Suatu ketika Abdul Malik, putra Umar b Abdul Aziz, menemui ayahnya, dan berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, jawaban apa yang engkau persiapkan di hadapan Allah swt. di hari Kiamat nanti, seandainya Allah menanyakan kepadamu, ’Mengapa engkau melihat bid’ah, tapi engkau tidak membasminya, dan engkau melihat Sunnah, tapi engkau tidak menghidupkannya di tengah-tengah masyarakat?’” Umar b Abdul Aziz menjawab, ”Semoga Allah swt. mencurahkan rahmat-Nya kepadamu dan semoga Allah memberimu ganjaran atas kebaikanmu. Wahai anakku, sesungguhnya kaummu melakukan perbuatan dalam agama ini sedikit demi sedikit. Jika aku melakukan pembasmian terhadap apa yang mereka lakukan, maka aku tidak merasa aman bahwa tindakanku itu akan menimbulkan bencana dan pertumpahan darah, serta mereka akan menghujatku. Demi Allah, hilangnya dunia bagiku jauh lebih ringan daripada munculnya pertumpahan darah yang disebabkan oleh tindakanku. Ataukah kamu tidak rela jika datang suatu masa, dimana ayahmu mampu membasmi bid’ah dan menghidupkan Sunnah?”

Semoga sebagaian dari kisah-kisah teladan seorang pemimpin umat ini dapat memberi inspirasi bagi kita semua yang mendapat amanah memimpin bangsa dan Negara(ai)

 
2 Komentar

Posted by pada 31 Januari 2012 in Artikel Islam

 

Tag: , , ,

2 responses to “Ciri-ciri Pemimpin yang Sukses dalam Islam

  1. Hamzah

    1 Juli 2012 at 07:45

    Terima kasih atas kisah kisah kepemimpinan yang sangat inspiratif diatas. Saya masih tertarik dengan kisah kisah lainnya

     
    • islamudin69

      17 Juli 2012 at 22:00

      sama2 mas hamzah, terimakasih juga atas kunjungannya…

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: